Pagi ini, aku tak tahu apa yang menggerakkan kakiku menuju sebuah acara Hari Ibu. Hanya karena sebuah sms yang masuk ke hp 3 hari sebelumnya, “Para relawan Rumah Zakat diharapkan kehadirannya di acara Hari Ibu di *******”.
Sebenarnya ada hal yang lebih penting yang harus aku kerjakan hari itu. Tetapi, entahlah mungkin ini skenario Alloh sehingga aku pun memutuskan tetap pergi sambil berpikir tentang ketidakjelasan acara dan peranku di acara tersebut.
Acara itu hanya sekitar 200 meter dari rumahku. Pagi-pagi sekali jam 7 aku sudah berada di tempat. Bersama dengan relawan Rumah Zakat lainnya aku membantu official bekerja mempersiapkan acara. “Gerakan Membasuh Kaki Ibu”, sekilas aku melihat spanduk acara tersebut. Hhhmm.. menarik nih acaranya. Kursi-kursi ditata sampai panjaaanngg sekali. Target peserta akan diikuti oleh 2007 pasang anak dan ibu. Wah…wah... acara gede nih! Di setiap kursi peserta ada baskom berisi air dan saputangan, yang akan dipergunakan untuk membasuh kaki ibu nantinya.
Hari sudah menunjukkan jam 9 ketika satu per satu pasangan ibu dan anak yang menjadi peserta mulai berdatangan. Sepertinya target peserta tidak tercapai. Kursi-kursi yang sudah disusun panjang sebagian dirapikan kembali. Peserta yang datang kemungkinan hanya sekitar 200 pasang Ibu dan anak. Tetapi makna acara ini tidak terletak di jumlah pesertanya.
Acara dimulai oleh MC kocak yang membawakan sebuah puisi tentang ibu. Puisi yang dibawakan membuat penonton tertawa, namun tetap tak mengurangi hikmah puisi yang dibawakannya. “Ibu, aku tahu syurga ditelapak kakimu Ibu. Izinkan aku melihat kakimu Ibu. Lho Bu…koq kakimu jelek banget!! Mana syurganya Bu?” Ah ya Ibu… Kakimu pasti kotor sekali. Mulai dari pagi pergi belanja, di dapur, mengantarkan anakmu ke sekolah, mencuci hingga kakimu putih karena dinginnya air, kemudian ketika anakmu pulang sekolah, engkau harus menyuapinya sambil mengejar-ngejarnya yang bermain sambil berlari-lari. Pantaslah kakimu kotor sekali Ibu. Kaki itu jugalah yang engkau gunakan sebagai tumpuan ketika mengandungku dulu. Dan tetap kaki itulah yang engkau gunakan untuk menopang tubuhmu sambil menggendongku, meninabobokanku, menyusuiku… Ah Ibu…benarlah syurga itu ada dibawah telapak kakimu Ibu.
Keharuan acara itu dimulai ketika Ketua Panitia memanggil ibunya menuju panggung. Si ibu menolak dengan halus ajakan anaknya. Ah begitulah Ibu…ia tak mau kebaikannya selama ini diketahui banyak orang. Ia ikhlas… Ia sudah bangga melihat anaknya bisa menyelanggarakan acara sebesar ini. Dan ia sama sekali tak minta untuk dipuji. “Saya memiliki ide untuk membuat acara ini, karena Ibu. Saya ingin mempersembahkan sesuatu untuk Ibu di hari Ibu ini.” Dan demi melihat anaknya yang memohon kepadanya agar ia naik ke panggung, luluh juga hatinya. Digandeng oleh anaknya ia menuju panggung. Di sana, Ketua menceritakan bagaimana ia membujuk ibunya untuk datang ke Medan menghadiri acara ini. MC memandu acara ini “Ibu…Ibu datang jauh-jauh dari Langsa Aceh, karena mendapat telepon dari anak Ibu, yang menjadi ketua panitia acara ini. Ibu disuruh datang saja ke Medan, tanpa mengetahui ada apa, tanpa mengetahui alasan kenapa Ibu disuruh datang. Ibu datang jauh-jauh naik taksi sendiri, Ibu ikhlas datang karena anak Ibu. Tetapi Bu, wkatu lebaran, waktu Ibu menyuruh anak Ibu pulang ke Langsa, anak Ibu bilang apa sama Ibu?” Saat itu Ketua sudah mulai terisak menangis. Dan MC pun melanjutkan, “Anak Ibu bilang, ‘Aduh Bu disini masih ada kerjaan, deadline ini deadline itu. Masih sibuk Bu ga bisa pulang!’ Anak Ibu ini yang sekarang berdiri di sini bilang seperti itu sama Ibu. Dan Ibu ketika ditelepon disuruh datang ke Medan, Ibu langsung datang. Padahal Ibu tidak tahu alasan kenapa Ibu disuruh datang kemari. Pokoknya datang aja ya Bu. Dan anak Ibu ini, waktu Ibu suruh pulang karena lebaran, banyak sekali alasannya untuk menolak pulang.”
Dan semakin terisaklah Ketua hingga ia berlutut di kaki Ibunya memohon maaf. “Ibu maafkan Nanda Bu…” Tak ayal keharuan melanda seluruh peserta dan panitia. Tak sedikit yang menitikkan air mata. Ah Ibu… aku merindukanmu saat ini…Inginku ikut bersimpuh dikakimu, memohon maaf kepadamu. Ibu…Teringat olehku ketika aku lebih mendahulukan kuliahku, lebih mendahulukan kegiatan organisasiku. Padahal waktu itu aku masih ingat engkau memintaku untuk menemanimu di rumah. Menemanimu sambil mendengarkanmu bercerita. Ah Ibu, aku justru cepat-cepat pergi ke kampus dan pulang ketika sudah magrib. Aku justru lebih rela mendengarkan sahabatku curhat daripada mendengarmu bercerita. Maafkan aku Ibu… Aku juga masih ingat Ibu, ketika engkau memintaku mengantarmu ke rumah sakit, aku justru lebih mendahulukan rapat organisasiku. Ah Ibu… maafkan aku, maafkan aku Ibu…maafkan aku… maaf Ibu…
Puncak acara pun digelar. Ketika seluruh pasangan ibu dan anak bersiap untuk melakukan Gerakan Membasuh Kaki Ibu. Aku ikut membantu peserta mengeluarkan baskom dari bawah kursi, memandu anak-anak yang akan membasuh kaki ibunya. Anak-anak yang terdiri dari berbagai usia mulai dari anak TK hingga SMA, dan ada juga anak yang kini juga telah menjadi ibu, ikut membasuh kaki Ibunya yang sudah renta. Dan aku… disini, ditengah-tengah para peserta. Di tengah anak-anak yang dengan lugu berjongkok dihadapan ibunya, kaki sang Ibu terjulur ke bawah, dipandu oleh MC, si anak lalu mengangkat kaki ibunya, mencelupkannya ke dalam baskom yang berisi air, dengan cekatan mereka lalu menggosok-gosok kaki ibunya. Dan Ibu dengan sabar memandu anaknya, “Ayo Nak, kamu bisa…” Ah Ibu aku tahu di dalam hatimu sebenarnya engkau tak mengharap balasan seperti ini. Aku tahu disetiap hati ibu, ada keharuan yang hinggap dihati, melihat anaknya bersimpuh didepannya, menggosok kakinya. Dan anak, anak-anak yang hari itu bersimpuh di kaki ibunya, berusaha untuk membalas segala kebaikan ibunya, meski hanya dengan mencuci kaki ibunya. Dan aku… masih disini, ditengah-tengah para peserta, melihat keharuan disetiap mata ibu, melihat gerak jari setiap anak di kaki ibunya. “Ibu maafkan aku yang tak sanggup membalas kebaikan Ibu. Maafkan aku yang selalu merepotkan Ibu, maafkan aku Bu.” Air mataku mengalir saat itu. Tak peduli dengan keadaan sekitarku. Yang ku tahu aku rindu sekali dengan Ibuku, aku ingin sekali ikut membasuh kakinya. Aku ingin ikut bersimpuh dibawah kakinya memohon maaf. Ibu aku merindukanmu, maafkan aku Ibu…Kulihat peserta lain juga ikut menangis, para panitia juga ikut menangis, beberapa relawan juga tak sanggup menahan air matanya. Ada keharuan, ada ketulusan, ada pengorbanan ibu, ada kebaikan ibu, ada kenangan tentang ibu, ada kerinduan akan ibu, ada keinginan untuk membalas segala kebaikan Ibu. Dan Ibu-ibu yang hadir saat itu juga tak sanggup menahan keharuannya, “Sudah Nak, sudah…kaki Ibu sudah bersih…bangkitlah Nak, Ibu memaafkanmu anakku. Ibu menyayangimu. Ibu mencintaimu anakku.” Dan mengalunlah doa dari sang Ibu, ditelinga anaknya. “Nak, Ibu hanya ingin engkau menjadi anak yang sholeh, berhasil, berbakti kepada orang tuanya. Anakku, Ibu tak mengharap balasmu, Ibu hanya ingin melihatmu menjadi anak yang sholeh, anak yang sholeh yang bisa mengantar Ibu ke syurga, bersamamu. Sudah Nak…bangkitlah…peluk Ibu Nak, Sini Nak, peluk Ibumu”. Ibu, maafkan aku…doakan aku Ibu agar aku menjadi anak yang sholeh.
Skenario Alloh Maha Indah, aku bersyukur bisa mengikuti acara ini. Sepulangnya dari acara tersebut, untuk pertama kalinya aku mengucapkan selamat Hari Ibu kepada Ibuku. Sambil menyerahkan bingkisan Mie Instan. Hahahaha… maaf Bu cuma mie instan, itu pun hadiah yang kudapat diacara tadi Bu. Tapi Bu, aku berjanji, akan membahagiakan Ibu, di dunia dan akhirat dengan menjadi anak yang sholeh untuk Ibu. Untuk membalas kebaikan Ibu meski aku tahu aku tak kan sanggup membalasnya. Untuk Alloh yang telah menitipkan aku lahir dari kandungan seorang Ibu yang luar biasa. Doakan Ibu…doakan aku…
Isya, 26 Desember 2007 (Qee Asyifa Komunikasi 06)